Senin, 11 April 2011

LAPORAN BATUAN BEKU

2.1. JUDUL
Identifikasi Batuan Beku
2.2. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan praktikum acara indentifikasi batuan beku adalah sebagai berikut:
a. Praktikan mampu mengidentifikasi batuan beku
b. Praktikan mampu mengklasifikasikan batuan beku
2.3. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam praktikum identifikasi batuan beku dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Alat dan kegunaannya dalam praktikum identifikasi batuan beku.

No Nama Alat Kegunaan

1. Komparator batuan Sebagai bahan pembanding dalam mengidenfikasi
batuan beku
2. Lubang Preparat Untuk melihat warna batuan
3. Pensil Warna Untuk menggambar batuan yang diamati
4. Rocks and Minerals Referensi klasifikasi batuan beku

Bahan yang digunakan dalam praktikum identifikasi batuan beku dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Bahan dan kegunaannya dalam praktikum identifikasi batuan beku.

No Nama Bahan Kegunaan
1. Gabro Sebagai bahan acara 1
2. Zeolit Sebagai bahan acara 2
3. Andesit Sebagai bahan acara 3
4. Basal Sebagai bahan acara 4

2.4. PROSEDUR KERJA
Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum identifikasi batuan beku adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2) Melakukan identifikasi batuan beku secara megaskopis/ kasat mata.
Berdasarkan sifat-sifat fisinya:
• Warna
• Tekstur
• Struktur
• Komposisi mineral pembentuk batuan
3) Menentukan nama batuannya
4) Mengisi data pada lembar pengamatan

2.5. LANDASAN TEORI
Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis golongan. Mereka adalah: batuan beku (igneous rocks), batuan sediment (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula proses terbentuknya.
Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar. Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite. (www.vulcano.und.edu)
Batuan beku terbentuk dari pemadatan bahan batu (magma cair), baik mengalami kristalisasi maupun tanpa kristalisasi. Ada dua tipe dasar batuan beku yaitu:
1) Batuan beku intrusif (plutonik) seperti diorit, granit, gabro, dan pegmatite yaitu batuan beku yang mengeras di bawah permukaan bumi.
2) Batuan beku ekstrusif (vulkanik) seperti andesit, basalt, obsidian, batu apung, riolit dan scoria yang mengeras pada atau di atas permukaan bumi. (www.Budi Setiyarso.blogspot.com)
Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, atau agregasi dari mineral-mineral , biasanya dia tidak dalam keadaan homogen dan tidak pula mempunyai susunan kimia dan sifat-sifat fisika yang tetap dan terbentuk di alam. Untuk mengetahui proses-proses yang terjadi suatu batuan terlebih dahulu kita melakukan pendiskripsian batuan, yaitu: jenis batuan, warna batuan, tekstur batuan, struktur, serta komposisi-komposisi mineral yang menyusun batuan. Secara Umum jenis batuan dibagi atas 3 yaitu batuan beku, sedimen dan metamorf.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk melalui hasil pembekuan magma atau kristalisasi magma yang dipengaruhi oleh suhu. Penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetic batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkadung, dan berdasarkan susunan mineraloginya.
- Berdasarkan Genetik
Batuan beku terdiri atas kristal-kristal mineral dan kadang-kadang mengandung gelas, berdasarkan tempat kejadiannya (genesa) batuan beku terbagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Batuan beku dalam (pluktonik), terbentuk jauh di bawah permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat sehingga batuan seluruhnya terdiri atas kristal-kristal (struktur holohialin).contoh :Granit, Granodiorit, dan Gabro.
b. Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-celah atau pipa gunung api. Proses pendinginannya berlangsung relatif cepat sehingga batuannya terdiri atas kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasar sehingga membentuk struktur porfiritik. Contoh batuan ini dalah Granit porfir dan Diorit porfir.
c. Batuan beku luar (efusif) terbentuk di dekat permukaan bumi. Proses pendinginan sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Struktur batuan ini dinamakan amorf. Contohnya Obsidian, Riolit dan Batuapung.
- Berdasarkan Senyawa Kimia
Berdasarkan komposisi kimianya batuan beku dapat dibedakan menjadi:
a. Batuan beku ultra basa memiliki kandungan silika kurang dari 45%. Contohnya Dunit dan Peridotit.
b. Batuan beku basa memiliki kandungan silika antara 45% - 52 %. Contohnya Gabro, Basalt.
c. Batuan beku intermediet memiliki kandungan silika antara 52%-65 %. Contohnya Andesit dan Syenit.
d. Batuan beku asam memiliki kandungan silika lebih dari 65%. Contohnya Granit, Riolit.
Dari segi warna,batuan yang komposisinya semakin basa akan lebih gelap dibanding yang komposisinya asam.
- Berdasarkan Susunan Mineralogi
Klasifikasi yang didasarkan atas mineralogi dan tekstur akan dapat mencrminkan sejarah pembentukan battuan dari pada atas dasar kimia. Tekstur batuan beku menggambarkan keadaan yang mempengaruhi pembentukan batuan itu sendiri. Seperti tekstur granular member arti akan keadaan yang serba sama, sedangkan tekstur porfiritik memberikan arti bahwa terjadi dua generasi pembentukan mineral. Dan tekstur afanitik menggambarkan pembekuan yang cepat.
Dalam klasifikasi batuan beku yang dibuat oleh Russel B. Travis, tekstur batuan beku yang didasarkan pada ukuran butir mineralnya dapat dibagi menjadi:
a. Batuan dalam
Bertekstur faneritik yang berarti mineral-mineral yang menyusun batuan tersebut dapat dilihat tanpa bantuan alat pembesar.
b. Batuan gang
Bertekstur porfiritik dengan massa dasar faneritik.
c. Batuan gang
Bertekstur porfiritik dengan massa dasar afanitik.
d. Batuan lelehan
Bertekstur afanitik, dimana individu mineralnya tidak dapat dibedakan atau tidak dapat dilihat dengan mata biasa. (Nesse, 2000)
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma, baik dibawah permukaan (intrusif) maupun diatas permukaan (ekstrusif). Ciri khas batuna beku adalah kenampakannya yang kritalin, yaitu memiliki unit-unit kristal yang kecil yang saling mengikat satu sama lain.
1. Warna
Warna batuan beku biasanya representasi dari mineral pembentuk batuan beku itu sendiri. Mineral-mineral tersebut dibedakan menjadi dua kelompok, yakni: berwarna cerah (bersifat asam/felsic) dan berwarna gelap (bersifatbasa/ mafic).
2. Tekstur
Tekstur merupakan kenampakan batuan berkaitan dengan ukuran, bentuk, dan sususnan butir mineral penyusun batuan. Tekstur dapat dijadikan petunjuk tentang proses (ganesa) yang terjadi pada waktu lampau sehingga menghasilkan batuan tersebut. Tekstur yang umumnya sering dijumpai pada batuan beku :
a. Feneritik
b. Afanitik
c. Porfiritik
d. Glassy
e. Fragmental
3. Struktur
Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian batuan yang berbeda. Macam-macam struktur yang terdapat pada batuan beku:
a. Masif
b. Jointing
c. Vesikular
d. Aliran
e. Amigdaloidal
4. Komposisi Mineral Pembentuk Batuan
Mineral-mineral yang terdapat pada batuan beku, antara lain : kwarsa, mika, feldspar, olivine, piroksen. Mineral-mineral penyusun batuan metamorf, antara lain : kwarsa, mika feldspar, karbonat, mineral lempung. (Firdaus, 2011)
Nakhlites (batuan beku mars) adalah batuan beku, yang dipadatkan dari magma basaltik,walaupun komposisi magmanya yang tidak teratur. Asal beku yang disusun oleh mineralogi, kimia mineral, tekstur, dan formasi urutan mineral. Mineral kimia dan pola mineral yang ada di bumi, bulan, dan eucrite (asteroidal) adalah sama-sama memiliki basal. Keseluruhan tekstur dari nakhlites juga mirip dengan basal terestrial, seperti tekstur mesostasis . Demikian pula, mineral dalam nakhlites mengandung multifase, inklusi kaca yang identik dengan yang diidentifikasi sebagai inklusi batuan basaltik magmatik di bumi. Sehingga, batu hampir identik dengan nakhlites yang telah ditemukan di Bumi. Interpretasi awal dari nakhlites mengandalkan mineral dan kesamaan tekstur dengan batuan basaltik terestrial. Mineraloginya didominasi oleh piroksin, olivin, plagioklas, dan oksida Fe-Ti - seperti yang ditemukan pada batu basal. Tekstur keseluruhannya adalah phenocrystic atau porfiritik basal. Pada NWA817 dan MIL03346 ada pengecualian yaitu bahwa mereka mesostases sebagian besar kaca. (Sautter , 2002)

Tekstur menggambarkan sifat butir (kristal) yang membentuk batu. Batuan dianggap berbutir kasar jika kita dapat membedakan kristal dengan mata telanjang. Batuan beku berbutir halus setidaknya memiliki bagian dari matriks batuan yang memiliki kristal yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tekstur porfiritik diproduksi oleh dua tahap pendinginan yang berbeda, baik kristal besar dan kecil di batu yang sama. Pendinginan yang lambat (umumnya di bawah tanah) menghasilkan kristal besar. Pendinginan cepat (pada atau dekat permukaan Bumi) menghasilkan kristal yang lebih kecil. Dalam sebuah porfiritik, kristal adalah ukuran jelas berbeda. Kristal yang lebih kecil disebut matriks atau massa dasar. Istilah pegmatit disediakan untuk batuan beku yang memiliki kristal yang luar biasa besar. Ini adalah istilah yang digunakan untuk batuan beku namun biasanya terkait dengan granit. Pegmatites adalah unik karena mereka tidak membentuk langsung dari batuan beku lelehan namun terbentuk dari cairan yang berasal dari atau dekat tubuh batuan beku. Cairan (umumnya berair dan di bawah temperatur dan tekanan yang tinggi) memungkinkan untuk banyak kebebasan untuk migrasi ion (dibebankan atom atau molekul) ke situs kristalisasi. Hasilnya adalah pembentukan kristal besar.( Nakamura dkk, 2002)

2.6. DATA HASIL PEGAMATAN

 Nomor Peraga : 1
 Nama Batuan : Gabro
 Warna : Hitam
 Sifat Batuan : Mafic
 Tekstur : Faneritic
 Struktur : Masif
 Komposisi Mineral : Muskofit, Biotit
(Sumber: www.Geology.com)



 Nomor Peraga : 2
 Nama Batuan : Zeolit
 Warna : Abu-abu
 Sifat Batuan : Falsic
 Tekstur : Afanitic
 Struktur : Masif
 Komposisi Mineral : Plagioklas
(Sumber: www.Geology.com)



 Nomor Peraga : 3
 Nama Batuan : Andesit
 Warna : Merah Daging
 Sifat Batuan : Intermediet
 Tekstur : Afanitic
 Struktur : Jointing
 Komposisi Mineral : Ortoklas
(Sumber: www.Geology.com)



 Nomor Peraga : 4
 Nama Batuan : Basal
 Warna : Hitam
 Sifat Batuan : Mafic
 Tekstur : Afanitic
 Struktur : Masif
 Komposisi Mineral : Piroksin, Biotit
(Sumber: www.Geology.com)

2.7. PEMBAHASAN

Dalam acara identifikasi batuan beku, terdapat empat jenis batuan beku yang akan diindentifikasi. Batuan beku tersebut adalah gabro (1), zeolit (2), andesit(3) dan basal (4). Berdasarkan kandungan SiO2 –nya, batuan beku yang diidentifikasi dikelompokan menjadi dua yaitu masfic dan intermediet. Identifikasi ini didasarkan pada warna batuan yang mana batuan basal dan gabro bersifat mafic sedangkan zeolit dan andesit bersifat intermediet.
Batuan pertama yang diklasifikasikan adalah gabro. Batuan ini berwarna hitam dengan sedikit butiran-butiran kuning pada permukaannya. Menurut (www.geology.com) Gabro merupakan batuan beku pultonik yaitu batuan yang terbentuk jauh dibawa permukaan bumi. Hal ini dicirikan dengan adanya mineral-mineral yang yang relative besar pada batuan ini. Batuan ini bersifat mafic (basa) dengan kadungan silikon 45% - 52%. Sifat kimia ini juga sangat tampak dengan adanya warna batuan yang suram(gelap). Tektur batuan ini adalah faneritik. Hal ini disebabkan oleh adanya butiran mineral penyusun batuan yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
Selain itu, batuan ini tidak memiliki retakan-retakan ataupun lubang-lubang gas pada permukaannya sehingga struktur keseluruhan batuan ini adalah masif. Batuan ini mengandung mineral mika. Mika itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu muskovit (mika yang berwarna putih) dan biotit (mika yang berwarna hitam). Pada batuan gabro, muskovit lebih dominan dibandingkan dengan biotit yang hanya merupakan fragmen pada batuan ini.
Batuan kedua yang diidentifikasikan adalah zeolit. Batuan ini berwarna abu-abu. Batuan ini bersifat felsic dengan kandungan silikon > 65 %. Kadar silikon ini sangat tampak jelas dengan adanya warna batuan yang terang. Dari segi tekstur, batuan ini digolongkan kedalam kelompok afanitik yaitu batuan dengan butiran mineral yang sangat halus sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Batuan ini berbentuk pejal dengan tidak adanya retakan maupun lubang gas pada permukaan batuan. Sehingga batuan ini berstruktur masif. Komposisi mineral batuan zeolit adalah plagioklas.
Batuan ketiga yang diidentifikasi adalah andesit. Batuan ini berwarna merah daging sedangkan warna lapuk dari batuan ini adalah cokelat. Berdasarkan kandungan SIO2-nya, batuan andesit merupakan kelompok dari intermediet. Batuan andesit memiliki Silikat sekitar 57 %. Butiran mineral penyusun batuan andesit tidak dapat dilihat dengan mata (afanitik). Batuan andesit berstruktur jointing dengan retakan - retakan pada permukaannya. Mineral utama penyusun batuan andesit ini adalah ortoklas. Ortoklas merupakan merupakan minera feldspar yang berwarna merah daging dengan bidang belahan yang tegak lurus atau 90o .
Batuan terakhir yang dilakukan identifikasi pada acara identifikasi batuan beku adalah Batu Basal. Menurut (www.vulcano.und.edu), batu basal merupakan batuan beku vulkanik yaitu batuan beku yang terbentuk diatas permukaan bumi melalui proses pendinginan yang sangat cepat. Hal ini menyebabkan Kristal batu basal lebih kecil. Batuan ini bersifat mafic atau basa. Hal ini direpsentasikan dengan adanya warna batuan yang gelap. Butiran mineral penyusun batuan ini tidak dapat dilihat secara kasat mata karena ukuran butiran yang relatif seragam. Batu basal pada umumnya berbentuk masif (pejal tanpa retakan dan lubang udara). Batuan ini terbentuk dari dua mineral yaitu piroksin dan biotit.

2.8. PENUTUP

2.8.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari acara identifikasi batuan beku adalah sebagai berikut:
1) Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma, baik di atas permukaan bumi maupun dibawah permukaan bumi.
2) Batuan beku dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Tempat terbentuk
 Batuan beku intrusif
 Batuan beku ekstrusif
b. Komposisi kimia
 Batuan beku asam (Felsic)
 Batuan beku intermediet
 Batuan beku basa (Mafic)
 Batuan beku ultra basa
c. Tekstur
 Faneritik
 Afanitik
 Porfiritik
 Glassy
 Fragmental
d. Struktur
 Masif
 Jointing
 Vesikular
 Aliran
 Amigdaloidal
2.8.2. Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan pada praktikum identifikasi batuan buku adalah agar alat yang masih kurang agar segera dilengkapi sehingga praktikan tahun yang akan datang dapat melaksanakan acara identifikasi batuan beku dengan baik sehingga hasilnya akan maksimal.





















DAFTAR PUSTAKA

Firdaus, 2011, Modul Praktikum Geologi Dasar, Universitas Haluoleo: Kendari
Http://www.Budi Setiyarso.blogspot.com/Batuan 1.htm.(diakses tanggal 9 April 2011)
Http://www.geology.com/igneous rock.htm (diases tanggal 8 April 2011)
Http://www.vulcano.und.edu/Batuan Beku.htm.(diakses tanggal 9 April 2011)
Nakamura, N., Yamakawa, A., Yamashita, K., Kobayashi, T., Imae, N., Misawa, K., Kojima, H., 2002, REE abundances and Rb–Sr age of a new Antarctic nakhlite Yamato 000593 (abstract), Antarctic Meteorites: Tokyo
Nesse, W.D., 2000. Introduction to Mineralogy. Oxford University Press: New York
Sautter, V., Barrat, J.A., Jambon, A., Lorand, J.P., Gillet, Ph., Javoy, M., Joron, J.L., Lesourd, M, 2002, A new Martian meteorite from Morocco: the nakhlite North West Africa 817. Earth Planet: Afrika Barat













PRAKTIKUM GEOLOGI DASAR
ACARA II
IDENTIFIKASI BATUAN BEKU





OLEH :
NAMA : NURSAHIRUDDIN
STAMBUK : F1B1 10 012
KONSENTRASI : GEOLOGI
KELOMPOK : V (LIMA)
ANGGOTA : 1). FADIL MAFHUT (GEOLOGI)
2). MELANINGSIH (GEOFISIKA)
3). HERLANI SADIDU (GEOFISIKA)
ASISTEN : NASRUDIN



LABORATORIUM KEBUMIAN
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

Selasa, 22 Maret 2011

MAKALAH PENCEMARAN TANAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda kembali yang kaya akan unsur hara.
Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut.
Salah satu diantaranya, penyelenggaraan pembangunan di Tanah Air tidak bisa disangkal lagi telah menimbulkan berbagai dampak positif bagi masyarakat luas, seperti pembangunan industri dan pertambangan telah menciptakan lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu seringkali diikuti oleh dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya menyebabkan berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian, terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lain. Sedangkan kegiatan pertambangan menyebabkan kerusakan tanah, erosi dan sedimentasi, serta kekeringan. Kerusakan akibat kegiatan pertambangan adalah berubah atau hilangnya bentuk permukaan bumi (landscape), terutama pertambangan yang dilakukan secara terbuka (opened mining) meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih tambang, permukaan tanah dikupas dan digali dengan menggunakan alat-alat berat. Para pengelola pertambangan meninggalkan areal bekas tambang begitu saja tanpa melakukan upaya rehabilitasi atau reklamasi.
Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan pertanian tersebut mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya yang bisa mencemari badan air dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh terhadap kesehatan makhluk hidup. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengkajian khusus yang membahas mengenai pencemaran tanah beserta dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah pencemaran tanah itu?
2. Bagaimana cara menanggulangi pencemaran tanah?

C. Tujuan

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut:
1. Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai Pencemaran Tanah.
2. Sebagai cara untuk mencari berbagai cara untuk menanggulangi dampak pencemaran.









BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PENCEMARAN TANAH

Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Pencemaran tanah adalah masuk atau dimasukannya bahan kimia buatan manusia dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).


B. SUMBER DAN KOMPONEN BAHAN PENCEMAR TANAH

Pencemaran tanah mempunyai hubungan yang erat baik dengan pencemaran udara maupun dengan pencemaran air. Bahan pencemar yang terdapat di udara larut dan terbawa oleh air hujan, jatuh ke tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah. Demikian pula bahan pencemar dalam air permukaan tanah (air sungai, air selokan, air danau dan air payau) dapat masuk ke dalam tanah dan dapat menyebabkan pencemaran tanah.

1) Sumber Bahan Pencemar Tanah

Karena pencemar tanah mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan pencemaran air, maka sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada umumnya juga merupakan sumber pencemar tanah. Sebagai contoh gas-gas oksida karbon, oksida nitrogen, oksida belerang yang menjadi bahan pencemar udara yang larut dalam air hujan dan turun ke tanah dapat menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga menimbulkan terjadinya pencemaran pada tanah.
Air permukaan tanah yang mengandung bahan pencemar misalnya tercemari zat radioaktif, logam berat dalam limbah industri, sampah rumah tangga, limbah rumah sakit, sisa-sisa pupuk dan pestisida dari daerah pertanian, limbah deterjen, akhirnya juga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran pada tanah daerah tempat air permukaan ataupun tanah daerah yang dilalui air permukaan tanah yang tercemar tersebut.
a. Limbah Rumah Tangga

Salah satu limbah rumah tangga adalah sampah. Sampah dalam jumlah banyak seperti di kota-kota besar, berperan besar dalam pencemaran tanah. Tanah yang mengandung sampah di atasnya akan menjadi tempat hidup berbagai bakteri penyebab penyakit.
Pencemaran oleh bakteri dan polutan lainnya dari sampah akan mengurangi kualitas air tanah. Air tanah yang menurun kualitasnya dapat terlihat dari perubahan fisiknya. Perubahan fisik misalnya berbau, berwarna dan berasa, bahkan terdapat lapisan seperti minyak. Beberapa jenis sampah seperti plastik dan logam, sulit terurai sehingga berpengaruh pada kemampuan tanah menyerap air.

b. Limbah Pertanian

Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama (pestisida), dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah. Penggunaan pupuk buatan secara berlebihan menyebabkan tanah menjadi asam yang selanjutnya berpengaruh terhadap produktivitas tanaman. Tanaman menjadi layu, berkurang produksinya dan akhirnya mati.
Pencemaran tanah oleh pestisida dan herbisida terjadi saat dilakukan penyemprotan tersebut akan terbawa oleh air hujan dan akhirnya mengendap di tanah. Pestisida dan herbisida memiliki sifat sulit terurai dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Residu pestisida dan herbisida ini membahayakan kehidupan organisme tanah. Misalnya, residu pestisida DDT (dikloro difenil trikloroetana) dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi proses pembusukan, sehingga kesuburan tanah terganggu. Tanah yang tercemar pupuk buatan, pestisida dan herbisida dapat mencemari sungai karena zat-zat tersebut terbawa air hujan atau erosi.

c. Limbah Pertambangan

Aktivitas penambangan bahan galian juga dapat menimbulkan pencemaran tanah. Salah satu kegiatan penambangan yang memiliki pengaruh besar mencemarkan tanah adalah penambangan emas. Pada penambangan emas, polusi tanah terjadi akibat penggunaan merkuri (Hg) dalam proses pemisahan emas dan beracun yang dapat mematikan tumbuhan, organisme tanah, dan menggangu kesehatan manusia.
2) Komponen Bahan Pencemar Tanah

Komponen-komponen bahan pencemar yang diperoleh dari sumber-sumber bahan pencemar tersebut di atas antara lain:
a. Senyawa organik yang dapat membusuk karena diuraikan oleh mikroorganisme, seperti sisa-sisa makanan, daun, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati.
b. Senyawa organik dan senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan/ diuraikan oleh mikroorganisme seperti plastik, serat, keramik, kaleng-kaleng dan bekas bahan bangunan, menyebabkan tanah menjadi kurang subur.
c. Pencemar udara berupa gas yang larut dalam air hujan seperti oksida nitrogen (NO dan NO2), oksida belerang (SO2 dan SO3), oksida karbon (CO dan CO2), menghasilkan hujan asam yang akan menyebabkan tanah bersifat asam dan merusak kesuburan tanah/ tanaman.
d. Pencemar berupa logam-logam berat yang dihasilkan dari limbah industri seperti Hg, Zn, Pb, Cd dapat mencemari tanah.
e. Zat radioaktif yang dihasilkan dari PLTN, reaktor atom atau dari percobaan lain yang menggunakan atau menghasikan zat radioaktif.Komponen bahan pencemar tanah.

C. PENDUGAAN TINGKAT PENCEMARAN/KERUSAKAN TANAH

Gejala pencemaran tanah dapat diketahui dari tanah yang tidak dapat digunakan untuk keperluan fisik manusia. Tingkat pencemaran tanah diukur dari banyak tidaknya bahan pencemar yang terkandung di dalamnya. Bahan pencemarnya antara lain, sampah organik, sampah senyawa organik atau sampah anorganik, sampah dari pengelolaan limbah industri, sampah zat radioaktif, penggunaan pupuk yang menggunakan senyawa kimia atau pestisida, dan sampah-sampah dari limbah rumah tangga.

Tingkat pencemaran/kerusakan tanah dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

1. Pencemaran Ringan

Pencemaran ringan yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan gangguan pada ekosistem lain. Contohnya tanah yang tidak dapat lagi ditumbuhi tanaman tertentu. Biasanya tanah ini banyak terdapat sampah-sampah anorganik yang tidak dapat terurai oleh tanah dengan sempurna, sehingga menyebabkan sebagian tanaman lain tidak dapat hidup karena kesulitan mendapatkan makanan didalam tanah.

2. Pencemaran Kronis

Pencemaran kronis yaitu pencemaran yang mengakibatkan penyakit kronis. Biasanya tanah ini tercemar oleh limbah pabrik yang dapat mengkibatkan penyakit.

3. Pencemaran Akut

Pencemaran akut yaitu pencemaran yang mengakibatkan tanah tidak dapat lagi dimamfaatkan seperti sediakala. Biasanya tanah ini terlalu banyak mengunakan pupuk yang mengandung bahan kimia dan tidak mematuhi aturan. Ciri-ciri tanah ini biasanya tanahnya kering dan tandus.

D. KRITERIA KERUSAKAN TANAH

Untuk mengukur tingkat pencemaran disuatu tempat digunakan kriteria pencemaran. Kriteria pencemaran digunakan sebagai indikator (petunjuk) terjadinya pencemaran dan tingkat pencemaran yang telah terjadi. Kriteria pencemaran tanah meliputi kriteria fisik, kriteria kimia, dan kriteria biologi.
1. Kriteria Fisik

Kriteria fisik meliputi pengukuran tentang warna, bau, suhu, dan radioaktivitas.

2. Kriteria Kimia

Kriteria kimia dilakukan untuk mengetahui kadar CO2, pH, keasaman, kadar logam, dan logam berat. Sebagai contoh berikut disajikan pengukuran pH air yang terkandung dalam tanah, kadar CO2, dan oksigen terlarut.

a. Pengukuran pH air dalam tanah

Air dalam tanah kondisi alami yang belum tercemar memiliki rentangan pH 6,5 – 8,5. Karena pencemaran, pH air dalam tanah dapat menjadi lebih rendah dari 6,5 atau lebih tinggi dari 8,5. Bahan-bahan organik biasanya menyebabkan kondisi air tersebut menjadi lebih asam. Kapur menyebabkan kondisi air dalam tanah menjadi alkali (basa). Jadi, perubahan pH air tersebut tergantung kepada macam bahan pencemarnya. Perubahan nilai pH mempunyai arti penting bagi kehidupan air. Nilai pH yang rendah (sangat asam) atau tinggi (sangat basa) tidak cocok untuk kehidupan kebanyakan organisme. Untuk setiap perubahan satu unit skala pH (dari 7 ke 6 atau dari 5 ke 4) dikatakan keasaman naik 10 kali. Jika terjadi sebaliknya, keasaman turun 10 kali. Keasaman air dapat diukur dengan sederhana yaitu dengan mencelupkan kertas lakmus ke dalam air untuk melihat perubahan warnanya.

b. Pengukuran Kadar CO2

Gas CO2 juga dapat larut ke dalam tanah. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahan pencemar tanah juga terkandung dari udara. Kadar gas CO2 terlarut sangat dipengaruhi oleh suhu, pH, dan banyaknya organisme yang hidup di dalam tanah. Semakin banyak organisme di dalam tanah, semakin tinggi kadar karbon dioksida terlarut. Kadar gas CO dapat diukur dengan cara titrimetri.

c. Pengukuran Kadar Oksigen Terlarut

Kadar oksigen terlarut dalam tanah yang alami berkisar 5 – 7 ppm (part per million atau satu per sejita; 1ml oksigen yang larut dalam 1 liter air dikatakan memiliki kadar oksigen 1 ppm). Penurunan kadar oksigen terlarut dapat disebabkan oleh tiga hal :
1. Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.
2. Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob.
3. Proses pernapasan orgaisme.
Pencemaran tanah dapat mengurangi persediaan oksigen terlarut. Hal ini akan mengancam kehidupan organisme yang hidup di dalam tanah. Semakin tercemar, kadar oksigen terlarut semakin mengecil. Untuk dapat mengukur kadar oksigen terlarut, dilakukan dengan metode Winkler. Parameter kimia yang dilakukan melalui kegiatan pernapasan jasad renik dikenal sebagai parameter biokimia. contohnya adalah pengukuran BOD dan COD.

3. Parameter Biologi

Di tanah terdapat hewan-hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme yang peka dan ada pula yang tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu. Organisme yang peka akan mati karena pencemaran dan organisme yang tahan akan tetap hidup. Planaria merupakan contoh hewan yang peka pencemaran. Tanah yang mengandung planaria menunjukkan tanah tersebut belum mengalami pencemaran. Sebaliknya, cacing Tubifex (cacing merah) merupakan cacing yang tahan hidup dan bahkan berkembang baik di lingkungan yang kaya bahan organik, meskipun spesies hewan yang lain telah mati. Ini berarti keberadaan cacing tersebut dapat dijadikan indikator adanya pemcemaran zat organik. Organisme yang dapat dijadikan petunjuk pencemaran dikenal sebagai indikator biologis.
Indikator biologis terkadang lebih dapat dipercaya daripada indikator kimia. Pabrik yang membuang limbah ke sungai dan mengenai tanah dapat mengatur pembuangan limbahnya ketika akan dikontrol oleh pihak yang berwenang. Pengukuran secara kimia pada limbah pabrik tersebut selalu menunjukkan tidak adanya pencemaran. Tetapi tidak demikian dengan makluk hidup yang menghuni ekosistem air dalam tanah secara terus menerus. Disitu terdapat hewan-hewan, mikroorganisme, bentos, mikroinvertebrata, ganggang, yang dapat dijadikan indicator biologis.

E. DAMPAK KERUSAKAN TANAH

Berbagai dampak ditimbulkan akibat pencemaran atau kerusakan tanah, diantaranya:

1. Pada Kesehatan

Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.
Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat menyebabkan gangguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

2. Pada Ekosistem

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat Kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.


F. PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH

Cara pencegahan dan penanggulangan Bahan Pencemar Tanah Pencegahan dan penanggulangan merupakan dua tindakan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam arti biasanya kedua tindakan ini dilakukan untuk saling menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak dapat dilakukan, maka dilakukan langkah tindakan.
Namun demikian pada dasarnya kita semua sependapat bahwa tindakan pencegahan lebih baik dan lebih diutamakan dilakukan sebelum pencemaran terjadi, apabila pencemaran sudah terjadi baik secara alami maupun akibat aktivisas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baru kita lakukan tindakan penanggulangan.
Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan macam bahan pencemar yang perlu ditanggulangi. Langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran antara lain dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Langkah Pencegahan

Pada umumnya pencegahan ini pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak menyebabkan terjadinya pencemaran, misalnya mencegah/mengurangi terjadinya bahan pencemar, antara lain :
Sampah organik yang dapat membusuk/diuraikan oleh mikroorganisme antara lain dapat dilakukan dengan mengubur sampah-sampah dalam tanah secara tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah sebagai kompos/pupuk. Untuk mengurangi terciumnya bau busuk dari gas-gas yang timbul pada proses pembusukan, maka penguburan sampah dilakukan secara berlapis-lapis dengan tanah.
Sampah senyawa organik atau senyawa anorganik yang tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara membakar sampah-sampah yang dapat terbakar seperti plastik dan serat baik secara individual maupun dikumpulkan pada suatu tempat yang jauh dari pemukiman, sehingga tidak mencemari udara daerah pemukiman. Sampah yang tidak dapat dibakar dapat digiling/dipotong-potong menjadi partikel-partikel kecil, kemudian dikubur.
Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat yang akan mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat pembuangan agar dilakukan proses pemurnian. Sampah zat radioaktif sebelum dibuang, disimpan dahulu pada sumur-sumur atau tangki dalam jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru dibuang ke tempat yang jauh dari pemukiman, misal pulau karang, yang tidak berpenghuni atau ke dasar lautan yang sangat dalam.Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan namun sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.Usahakan membuang dan memakai detergen berupa senyawa organik yang dapat dimusnahkan/diuraikan oleh mikroorganisme.

2. Langkah Penangulangan

Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap pencemaran tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat.
Ada beberapa langkah penangan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah. Diantaranya:

a. Remidiasi

Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar.
Hal yang perlu diketahui sebelum dilakukan remidiasi adalah sebagai berikut:
1. Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
2. Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
3. Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
4. Jenis tanah,
5. Kondisi tanah (basah, kering),
6. Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
7. Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).
Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

b. Bioremediasi

Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

b.1. Jenis jenis biomerasi

Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:

 Biostimulasi

Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut.

 Bioaugmentasi

Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi.

 Bioremediasi Intrinsik


Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar.

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :

1. Stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi ph, dsb
2. Inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
3. Penerapan immobilized enzymes
4. Penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar.

b.2. Proses Biomerasi

Transformasi kimia dari bahan pencemar pestisida melalui proses bioremediasi ini meliputi beberapa proses, yaitu

1. Detoksikasi, yaitu konversi dari molekul yang bersifat toksik menjadi produk yangtidak bersifat toksik.
2. Degradasi, yaitu transformasi dari substrat kompleks menjadi produk yang lebih sederhana.
3. Konjugasi, yaitu pembentukan senyawa kompleks, atau reaksi penambahan, dimana suatu organisme dapat menghasilkan substrat yang lebih kompleks dan mengkombinasikannya dengan pestisida dengan sel metabolis. Konjugasi atau pembentukan senyawa pengkompleks dapat dihasilkan dari organisme yang menghasilkan suatu asam amino, asam organik, methyl atau senyawa lain yang bereaksi dengan polutan membentuk substrat lainnya. Konjugasi adalah salah satu bentuk bioremediasi dari metabolisme mikroorganisme terhadap fungisida sodium dimethyldithiocarbamate, dimana mikroorganisme mengkompleks pestisida dengan asam amino pada sel.
4. Aktivasi, yaitu konversi substrat yang nontoksik menjadi molekul toksik seperti bahan aktif awal dari pestisida. Sebagai contoh, herbisida 4- (2,4-dichlorophenoxy) butyric acid ditransformasi dan diaktivasi oleh mikroorganisme dalam tanah menghasilkan senyawa yang bersifat toksik terhadap gulma dan serangga. Proses aktivasi ini lebih menekankan pada efisiensi penggunaan pestisida, atau aktivasi residu.
5. Proses defusi, yaitu konversi molekul nontoksik berasal dari pestisida yang sedang dalam proses aktivasi secara enzimatik, menjadi produk nontoksik yang tidak lagi dalam proses enzimatik.
6. Perubahan spektrum toksisitas. Contoh bioremediasi bagi lingkungan yang tercemar minyak bumi. Yang pertama dilakukan adalah mengaktifkan bakteri alami pengurai minyak bumi yang ada di dalam tanah yang mengalami pencemaran tersebut. Bakteri ini kemudian akan menguraikan limbah minyak bumi yang telah dikondisikan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan hidup bakteri tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat kandungan minyak akan berkurang dan akhirnya hilang, inilah yang disebut sistem bioremediasi.

b.3. Manfaat Biomerasi

1. Bidang Lingkungan

Pengolahan limbah yang ramah lingkungan dan bahkan mengubah limbah tersebut menjadi ramah lingkungan. Contoh bioremediasi dalam lingkungan yakni telah membantu mengurangi pencemaran dari pabrik, misalnya saat 1979, supertanker Exxon Valdez di Alaska, lebih dari 11juta gallon oli mentah mengalir, tetapi bakteri pemakan oli membantu mengurangi pencemaran laut yang lebih jauh lagi.

2. Bidang Industri

Bioremediasi telah memberikan suatu inovasi baru yang membangkitkan semangat industri sehingga terbentuklah suatu perusahaan yang khusus bergerak dibidang bioremediasi, contohnya adalah Regenesis Bioremediation Products, Inc., di San Clemente, Calif.




3. Bidang Ekonomi

Bioremediasi menggunakan bahan bahan alami yang hasilnya ramah lingkungan, sedangkan mesin-mesin yang digunakan dalam pengolahan limbah memerlukan modal dan biaya yang jauh lebih, sehingga bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang lebih baik.

4. Bidang Pendidikan

Penggunaan microorganisme dalam bioremediasi, dapat membantu penelitian terhadap mikroorganisme yang masih belum diketahui secara jelas.Pengetahuan ini akan memberikan sumbangan yang besar bagi dunia pendidikan sains.

5. Bidang Teknologi

Bioremediasi memberikan tantangan baru bagi teknologi untuk terus memberikan inovasi yang lebih baik bagi lingkungan.

6. Bidang Sosial

Bioremediasi memberikan solusi ekonomi yang mudah dijangkau dan mudah dilakukan baik bagi rumah tangga dan industri. Dengan begini, limbah rumah tangga dapat dikelola jauh lebih baik.

7. Bidang Kesehatan

Dengan pengelolaan limbah yang baik, pencemaran dapat diminimalisir sehingga kualitas hidup manusia jauh meningkat.

8. Bidang Politik

Isu lingkungan dapat lebih ditekan sehingga para petinggi dapat memfokuskan masalah ke lingkup lain, Bahkan bioremediasi dapat membantu memperbaiki masalah yang berkesinambungan didalamnya.

b.4. Keunggulan Biomerasi

 Meminimalisasi terinfeksinya pekerja lapangan
 Perlindungan kesehatan masyarakat yang berjangka panjang
 Proses pelaksanaan dapat dilakukan langsung di daerah tersebut dengan lahan yang sempit sekalipun.
 Menghilangkan zat-zat berbahaya
 Menggunakan proses yang bersifat alami
 Mengubah polutan bukan hanya memindahkannya
 Proses degradasi dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang cepat

G. TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAMPAH

1. Penanganan Limbah Organik

Limbah organik dapat dimanfaatkan, baik secara langsung (contohnya untuk makanan ternak) maupun secara tidak langsung karena memerlukan proses terlebih dahulu yaitu proses daur ulang (contohnya pengomposan dan biogas).

a. Makanan Ternak

Sampah organik yang mudah rusak dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Di Indonesia, sampah organik berupa sayur-sayuran (contohnya kubis, selada air dan sawi) biasanya dimanfaatkan untuk makanan kelinci, kambing, ayam atau itik. Hal ini sangat menguntungkan karena selain untuk hewan ternak. Namun, sampah organik ini harus dibersihkan dan dipilih terlebih dahulu sebelum dikonsumsi ternak. Jika sampah organik bercampur dengan sampah yang mengandung logam-logam berat, maka dapat terakumulasi di dalam ternak.

b. Pengomposan (Composting)

Pengomposan merupakan upaya pengolahan limbah dengan menggunakan prinsip penguraian bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik oleh aktivitas organisme. Proses pengomposan menghasilkan kompos yang dapat menyuburkan tanah. Organisme yang berperan dalam proses ini adalah bakteri, jamur, khamir dan hewan seperti insekta serta cacing. Agar pertumbuhan organisme optimum diperlukan beberapa kondisi, diantaranya campuran yang seimbang antara komponen karbon dan nitrogen, suhu, kelembapan udara serta cukupnya kandungan oksigen.
Sistem pengomposan memiliki beberapa keuntungan, antara lain
1. Kompos merupakan jenis pupuk yang ekologis dan tidak merusak lingkungan
2. Bahan yang dipakai tersedia (tidak perlu dibeli)
3. Masyarakat dapat membuatnya sendiri (tidak memerlukan peralatan yang mahal)
4. Unsur hara dalam pupuk kompos lebih tahan lama jika dibandingkan dengan pupuk buatan.

c. Biogas

Biogas adalah gas-gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar yang dihasilkan dari proses pembusukkan sampah organik secara anaerob. Bahan bakunya dapat di ambil dari kotoran hewan, sisa-sisa tanaman, atau campuran dari keduanya. Secara garis besar, biogas dapat dibuat dengan cara mencampur sampah organik dengan air kemudian dimasukkan ke dalam tempat yang kedap udara. Selanjutnya, campuran tersebut dibiarkan selama kurang lebih dua minggu.
Biogas memiliki beberapa kelebihan antara lain:
1. Mengurangi jumlah limbah
2. Sumber energi yang tidak merusak lingkungan
3. Nyala api bahan bakar biogas lebih terang atau bersih
4. Residu dari biogas dapat dimanfaatkan untuk pupuk

2. Penanganan Limbah Anorganik

Limbah anorganik dapat dimanfaatkan kembali memalui proses daur ulang. Limbah anorganik yang dapat di daur ulang anatara lain plastik, logam dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang harus diolah terlebih dahulu yaitu dengan sanitary landfill, pembakaran (incineration) atau penghancuran (pulverisation).
a. Sanitary Landfill


Gambar 1.1. Teknologi Landfill
Sanitary Landfill merupakan salah satu metode pengolahan sampah terkontrol denagn sistem sanitasi yang baik. Sampah dibuang tempat, kemudian dipadatkan dengan traktor. Selanjutnya sampah ditutup tanah. Pada bagian dasar tempat tersebut dilengkapi sistem saluran yang berfungsi sebagai saluran limbah cair sampah yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai atau lingkungan. Pada sanitary landfill juga dipasang pipa gas untuk mengalirkan gas hasil aktivitas penguraian sampah. Cara ini sangat menguntungkan karena menghilangkan polusi udara.

b. Pembakaran sampah

Sampah padat di bakar di dalam insinerator. Hasil pembakaran adalah gas dan residu pembakaran. Penurunan volume sampah padat hasil pembakaran dapat mencapai 70%. Namun, cara relatif lebih mahal dibanding dengan sanitary landfill yaitu sekitar tiga kali lipatnya.
Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.
Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). Seperti halnya pirolisa, proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3.



Gambar 1.2. Insinerator

c. Penghancuran (Pulverisation)

Pengancuran sampah dilakukan di dalam mobil pengumpul sampah yang telah dilengkapi alat pelumat sampah. Sampah langsung dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang letaknya rendah.

d. Daur ulang Limbah Organik

Masyarakat indonesia secara tradisional memiliki kebiasaan melakukan daur ulang, misalnya pemulungan sampah, usaha daur ulang di masing-masing rumah tangga dan pengomposan. Daur ulang merupakan salah satu cara untuk untuk mengolah sampah organik maupun anorganik menjadi benda-benda yang bermanfaat.
Daur ulang memiliki potensi yang besar untuk mengurangi timbunan, biaya pengolahan dan tempat pembuangan akhir sampah. Manfaat dari daur ulang adalah adanya produk hasil yang berguna.

e. Daur Ulang Kertas

Salah satu contoh sampah yang dapat di daur ulang adalah sampah kertas. Sampah kertas dapat berasal dari rumah tangga maupun industri, misalnya dari kegiatan administrasi perkantoran, pembungkus dan media cetak. Sampah kertas dapat dimanfaatkan dengan cara didaur ulang. Kertas daur ulang memiliki sentuhan tekhnologi dan seni.

















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan


Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ada beberapa cara untuk mengurangi dampak dari pencemaran tanah, diantaranya dengan remediasi dan bioremidiasi. Remediasi yaitu dengan cara membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Sedangkan Bioremediasi dengan cara proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri).

B. Saran

Untuk lebih memahami semua tentang pencemaran tanah, disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari – hari menjaga kelestarian bumi ini.






DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/pencemaran_tanah.

http://www.sentra-edukasi.com/2010/04/macam-macam-pencemaran-lingkungan-upaya.html.

Scribd . 2008. PENCEMARAN LINGKUNGAN (On-Line). http://www.scribd.com/doc/7777351/Pencemaran-lingkungan.

Scribd. 2009. PENCEMARAN TANAH (On-Line). http://www.scribd.com/doc/27705754/PENCEMARAN-TA\NAH

UM Community. 2010. Sumber Pencemaran Tanah (On-Line). http://community.um.ac.id/showthread.php?72507-Sumber-Pencemaran-tanah

Wikipedia. 2010. Pencemaran Tanah (On-line).

Wordpress. 2010. Makalah Pencemaran Tanah (On-Line). http://lasonearth.wordpress.com/makalah/makalah-pencemaran-tanah/
.

MINERAL

DESKRIPSI MINERAL

NOMOR MINERAL : I-IX(kelompok satu-Mineral kesembilan)
NAMA MINERAL : Biotit
WARNA : Hitam hijau gelap,Coklat tua
KILAP : Seperti kaca Diaphaneity
KEKERASAN : 2,5 – 3
CERAT : Kuning emas
SISTEM KRISTAL : Monoklinik
BELAHAN/PECAHAN : Sempurna
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : K, (Mg, Fe) 3 (Si3Al) O10 (OH, F) 2
SIFAT LAINNYA : Semua mineral mika berbentuk pipih, bentuk Kristal berlembar menyerupai buku dan merupakan bidang belahan (cleavage) dari mineral biotite. Mineral biotite umumnya berwarna gelap, hitam atau coklat sedangkan muscovite berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika mempunyai kekerasan yang lunak dan bisa digores dengan kuku.
KETERANGAN : Biotit adalah mineral silikat pembentuk batuan umum. Mika merupakan contoh dari mineral ini ditemukan di berbagai jenis batuan beku dan dalam beberapa batuan metamorf. Hal ini mudah dikenal karena pembelahan yang sempurna yang memungkinkan untuk terpisah menjadi tipis, hitam, lembaran fleksibel.Dalam dunia komersil penggunaannya sangat terbatas. Partikel biotit kadang-kadang digunakan sebagai perawatan permukaan pada beton dekoratif, plester dan bahan konstruksi lainnya. Hal ini juga digunakan dalam metode kalium-argon kencan batuan beku.




















DESKRIPSI MINERAL

NOMOR MINERAL : I-X (Kelompok 1-Mineral 10)
NAMA MINERAL : Bornit
WARNA : Kecoklatan, ungu, biru, dan hitam pada permukaan
KILAP : Metalik Diaphaneity buram
KEKERASAN : 3
CERAT : Hitam keabu-abuan
SISTEM KRISTAL : Persegi empat
BELAHAN/PECAHAN : Tidak teratur
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Tembaga besi sulfida, Cu5FeS4
SIFAT LAINNYA :
KETERANGAN :Bornit adalah besi tembaga sulfida mineral umumnya ditemukan di urat hidrotermal, hubungi batuan metamorf dan di zona diperkaya dari deposito tembaga sulfida. Ini adalah bijih umum tembaga dan mudah dikenal karena tarnishes untuk nuansa warna-warni biru, ungu, hijau dan kuning. Hal ini sering ditambang sebagai bijih tembaga. Menggunakan Penggunaan utama dari bornit adalah sebagai bijih tembaga. Tidak memiliki kegunaan lain yang signifikan.











DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-VIII (Kelompok 1-Mineral 8)
NAMA MINERAL : Beryl
WARNA : Hijau kebiru-biruan, kuning terang/cerah, kuning emas, merah jambu, putih, tak berwarna.
KILAP : Seperti kaca.
KEKERASAN : 7,5-8.
CERAT : Tanpa warna/tak berwarna.
SISTEM KRISTAL : Bentuk kristal heksagonal,
BELAHAN/PECAHAN : Tidak sempurna.
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Berilium Aluminium Silika, Be3Al2si6O18.
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN : Beril adalah Berilium mineral Aluminium Silika lebih sering ditemukan didalam batu besi dan pegmentatif-pegmentatif batu besi. Ia dapat juga ditemukan dalam batuan Metamorfik atau didalam lapisan-lapisan dan rongga-rongga batu gamping dan marmer-marmer. Beril adalah hasil tambang dari berilium. Kualitas permata beril dengan spesifik tinggi berwarna hijau, dijual dengan nama ‘Jamrud”. Corak-corak dari warna hijau dikenal dikenal sebagai “aquamarine”. Kualitas lain permata beril termasuk heliodore (kuning), morganite (Merah jambu), dan goshenite (putih).

























DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-VII (Kelompok 1-Mineral 7)
NAMA MINERAL : BAUXITE
WARNA : Putih,kelabu, kuning, merah.
KILAP : Pudar ( seperti tanah )
KEKERASAN : 1 - 3.
CERAT : Tembus cahaya.
SISTEM KRISTAL : Jajaran genjang (diasphore
BELAHAN/PECAHAN : Tidak ada pecahan
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Gibbsite Al(OH)3, Boehmite AlO(OH), diaspore AlO(OH)
SIFAT LAINNYA : Bauksit adalah suatu campuran gibbsite, boehmite dan diaspore sehingga tidak punya pecahan.
KETERANGAN Bauksit adalah suatu batu yang tersusun oleh sebagian besar mineral aluminium oksida dan mineral aluminium hidroksida, meliputi: gibbsite, boehmite, dan diaspore. Batu ini pada umumnya diliputi material lainnya seperti iron Hidroxides,clay ( tanah liat), silt (slib), dan free silica (tanah kerikil). Bauksit tersebut dikenal sebagai material lahan yang bersifat sisa di dalam area tropis dan subtropis. Bauksit juga merupakan sumber aluminium yang utama.

































DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-I (Kelompok 1-Mineral 1)
NAMA MINERAL : ANHYDRITE
WARNA : Tak berwarna, putih, kuning, abu-abu, biru, merah-jingga, merah, merah jambu dan ungu
KILAP : Seperti kaca atau mutiara
KEKERASAN : 3-3,5
CERAT : Tembus cahaya/ transparan
SISTEM KRISTAL : Jajaran genjang
BELAHAN/PECAHAN : Serpihan ( tidak merata)
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Caso4
SIFAT LAINNYA : Rapuh
KETERANGAN : Merupakan mineral kalsium sulfat padat dan memiliki berat jenis 2,9 serta mudah berubah bentuk, menjadi gips atau batu tahu ( caso4.2h2o)



















DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-II (Kelompok 1-Mineral 2)
NAMA MINERAL : APATITE
WARNA : Hijau, kuning, coklat, violet, tak berwarna, dan biru,
KILAP : Seperti kaca
KEKERASAN : 5
CERAT : Tembus cahaya/ TRANSPARAN
SISTEM KRISTAL : Heksagonal
BELAHAN/PECAHAN :Pudar
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Fluorapatite: Ca5(PO4)3F,hydroxylapatite: Ca5(PO4)3(OH),chlorapatite :Ca5(PO4)3Cl,carbonate-rich apatite/francolite: Ca5(PO4,CO3)3(F,O)
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN : Merupakan kelompok dari mineral fosfat yang berbentuk segi enam, serta memiliki bentuk atau struktur yang sama dengan mineral lain.




































DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-III(Kelompok 1-Mineral 3)
NAMA MINERAL : Arsenopyrite
WARNA : Perak-keputihan, merah jambu, dan kuning
KILAP : Hitam keabu-abuan
KEKERASAN : 5,5 – 6,5
CERAT : Tidak Tembus cahaya ( buram )
SISTEM KRISTAL : Monoklinik
BELAHAN/PECAHAN :2,1-berbentuk prisma
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : FeAsS
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN :Arsenopyrite dapat menghantarkan listrik dengan baik, mudah larut dalam larutan asam dan bentuknya kecil seperti garlic ketika dipanaskan.





































DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-IV(Kelompok 1-Mineral 4)
NAMA MINERAL : Auqite
WARNA : abuabu-kehijauan, black, hijau kehitaman, abuabu, hitam, hijau-hitam, coklat, coklat keunguan
KILAP : abuabu kehijauan
KEKERASAN : 5,5- 6
CERAT : TEMBUS CAHAYA
SISTEM KRISTAL : MONOKLINIK
BELAHAN/PECAHAN :-
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : (Ca, Na) (Mg, Fe
2+ 2 +

,Al,Fe , Al, Fe
3+ 3 +

,Ti)[(Si,Al) , Ti) [(Si, Al)

2 2
O O

6 6
] ]
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN :




























DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-V(Kelompok 1-Mineral 5)
NAMA MINERAL : Azurite
WARNA : Putih, Biru muda, Biru tua, dan Hijau
KILAP : Seperti kaca
KEKERASAN : 3.5 – 4
CERAT : Biru mudah
SISTEM KRISTAL : Kristal Monoklinik
BELAHAN/PECAHAN : Tidk teratur
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : Cu32+(CO3)2(OH)2
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN :





























DESKRIPSI MINERAL
NOMOR MINERAL : I-VI(Kelompok 1-Mineral 6)
NAMA MINERAL : Barite
WARNA : tanpa warna/putih, hijau, kuning, merah
KILAP : seperti kaca
KEKERASAN :3- 3,5
CERAT : putih
SISTEM KRISTAL : JAJARAN GENJANG
BELAHAN/PECAHAN : sempurna
KERAPATAN : -
KOMPOSISI KIMIA : BaSO4, barium sulfat
SIFAT LAINNYA : -
KETERANGAN : Barit adalah suatu mineral umum dan buatan yang sangat spesimen menarik. [Itu] sering adalah suatu mineral aksesori [bagi/kepada] lain mineral dan dapat membuat suatu latar belakang manis untuk dengan hebat mewarnai kristal. Kadang-Kadang kristal Barit [yang] bentuk tabel atau berdaun empat membentuk suatu pola teladan [yang] sepusat [dari;ttg] kristal terus meningkat lebih besar keluar. Ini mempunyai penampilan suatu bunga dan ketika merah diwarnai oleh menyetrika noda, formasi ini [disebut/dipanggil] " Bunga mawar Padang pasir". Sebab Barit menjadi sangat umum, [itu] dapat dikacaukan untuk lain mineral. Celestite ( Srso4) mempunyai struktur yang sama [sebagai/ketika] barit dan format yang sangat kristal serupa. Keduanya adalah tak dapat dibedakan oleh metoda biasa, tetapi suatu nyala api test dapat menciri [mereka/nya]. Dengan pembatalan debu kristal ke dalam suatu gas bernyala warna nyala api akan mengkonfirmasikan identitas kristal [itu]. Jika nyala api adalah suatu [yang] hijau pucat [itu] adalah barit, tetapi jika nyala api adalah merah [itu] adalah celestite. Nyala api